Gimana rasanya kalah? Pasti menyesakkan. Masing-masing individu memiliki kualitas sendiri-sendiri di dalam mengendalikan emosi baik di saat menang maupun kalah. Setiap kompetisi ada kalah ada menang, pula terkadang seri. Di saat menang, membuat kita melambung senang. Di saat kalah, membuat kita terjerumus kesal.
Kasus terbaru dari ulah pendukung timnas sepakbola Indonesia, melakukan kerusuhan di stadion kebanggaan nasional akibat tidak bisa menerima kekalahan yang dialami timnas. Petasan dan tindak tidak terpuji lainnya seperti pelemparan botol. Terlepas dari kualitas pemain dan pelatih timnas, kualitas pendukung juga harus dibenahi. Seringkali hanya tuntutan perbaikan kepada pemain dan pelatih, sementara pincang di sisi pendukung yang notabene masih jauh dari sportifitas. Katanya pendukung, yang ada malah mendukung dengan cara yang buruk tanpa pengendalian diri tadi. Kenapa tidak ada, karena sudah terbiasa dengan didikan buruk pula. Memang tidak semuanya pendukung itu berulah, masih ada yang sopan dan jauh dari kekerasan. Tapi imbasnya terkena kesan negatif dari mereka yang berulah. Tak perlu ikut-ikutan negara lain yang memiliki supporter tukang rusuh, karena yang seperti itu tidak perlu dicontoh atau sampai dibanggakan segala. Ingat dampaknya apa akibat kerusuhan dan tindakan merusak lainnya, rugi diri sendiri, rugi yang didukung juga, rugi semuanya (negara).
Pendukung seperti manakah, Anda?